PERJUANGAN ISLAM: PERJUANGAN BUKAN DENGAN KEKERASAN!

Opini mendiskreditkan Islam dan umat Islam dengan dalih mengaitkan perjuangan Islam dengan terorisme dan aksi kekerasan sedang terjadi. Media massa nasional, baik elektronik maupun cetak, dengan gencar memberitakan isu terorisme dan mengaitkan dengan opini perjuangan Islam radikal. Seperti berita teranyar, terkait bom bunuh diri di masjid Adz Dzikro Markas Kepolisian Resor (Mapolres) kota Cirebon, atau sebelumnya terdapat pemberitaan bom buku yang ditujukan kepada Ulil Abshar Abdala.

Walhasil, akibat pemberitaan media massa nasional yang ditonton atau dibaca oleh masyarakat secara luas, tak sedikit masyarakat menelan bulat-bulat informasi yang diberitakan. Akhirnya, agenda pendiskreditan Islam bisa jadi berhasil terutama bagi masyarakat awam yang minim informasi. Dengan demikian, banyak masyarakat yang tergiring pada opini bahwa Islam itu dalam perjuangannya menempuh cara-cara kekerasan. Namun, apakah Rasululloh SAW mengajarkan bahwa perjuangan Islam itu dengan kekerasan? Lalu bagaimana sebenarnya perjuangan yang dishirohkan oleh Rasululloh SAW?

Perjuangan Ala Rasulullah
Bagi kaum Muslim apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW wajib diteladani karena ia adalah panutan terbaik dalam segala hal (QS al-Ahzab [33]:21) termasuk dalam menyampaikan perubahan masyarakat. Allah SWT berfirman:”Katakanlah inilah jalanku dimana saya menyeru dengan penuh kejelasan bersama orang-orang yang mengikutiku.” (TQS Yusuf [12]: 108) Menurut al-Syaukani ini merupakan dalil wajibnya bagi pengikut rasul untuk meneladani beliau dalam berdakwah, mengesakan Allah dan beramal sebagaimana yang telah disyariatkan. Berikut ini adalah gambaran umum metode perubahan yang ditempuh oleh Rasulullah SAW dalam mengubah masyarakat Arab dari masyarakat Jahiliyyah menjadi masyarakat Islam.

Pertama, perubahan yang berbasis ideologi. Rasulullah SAW telah mendapatkan wahyu dari Allah SWT yang mengatur sema perkara. Wahyu tersebut sekaligus menjadi pedoman hidup yang wajib diamalkan oleh kaum Muslim. Jika dicermati wahyu juga merupakan ideologi karena terdiri dari ide dasar (aqidah) dan berbagai sistem kehidupan yang bersumber dari ide dasar tersebut (syariah). Selain itu ideologi tersebut berisi konsep dan metode untuk membumikan ideologi tersebut. Metode untuk mewujudkan ideologi tersebut adalah negara. Inilah tujuan perubahan yang diusung oleh Rasul dan para sahabat, membumikan ideologi tersebut di tengah-tengah masyarakat dengan jalan menegakkan daulah Islam.

Kedua, membentuk partai politik. Untuk membumikan sebuah ideologi tentu bukan perkara mudah yang dapat dijalankan seorang diri. Rasulullah SAW tidak hanya mengajak satu demi satu masyarakat Arab untuk meyakini ideologi yang beliau sampaikan. Namun lebih dari itu, mereka yang beriman kemudian diorganisir dan digerakkan secara sistematis yang berpusat di rumah Arqam bin Abu al-Arqam. Beberapa ayat Makkiyah menjadi bukti bahwa Rasulullah SAW merupakan dakwah dalam bentuk jamaah (lihat QS al-Syuara’ [26]: 215; QS.Yusuf [12]: 183). Model kelompok yang berbasis pemikiran yang diyakini oleh anggotanya serta berupaya diwujudkan di tengah kehidupan tidak lain merupakan definisi partai politik. Dengan demikian kelompok Rasul saat itu adalah berbentuk partai politik.

Ketiga, mempersiapkan kader melalui pembinaan. Rasulullah SAW mempersiapkan kader partai yang nota bene adalah sahabat-sahabat beliau secara terus menerus tanpa henti hingga terbentuk kepribadian Islam pada diri mereka. Disamping mengamalkan apa yang telah diajarkan, Rasulullah juga mengutus orang-orang tertentu untuk mengajari Alquran orang-orang yang baru masuk Islam. Beliau misalnya mengutus Khabbab bin al-Arat untuk mengajar Zainab binti Khattab dan suaminya, Said  memahami Alquran. Kurang lebih tiga tahun jumlah pengikut beliau hingga memeasuki tahap interaksi dengan masyarakat secara terbuka hanya 40 orang pria di tambah dengan tiga wanita orang. Jika dirata-rata dalam sebulan hanya ada satu hingga dua orang yang masuk Islam. Dari al-Arqam bahwa Rasulullah SAW berada di rumah beliau di Shafa hingga jumlah mereka mencapai 40 laki-laki Muslim. Orang yang terakhir masuk Islam adalah Umar bin Khattab. Tatkala jumlah mereka mencapai 40 orang mereka pun keluar menemui orang-orang musyrik. (HR. al-Hakim dan menurutnya shahih).

Keempat, mempersiapkan masyarakat sebagai basis untuk menerapkan ideologi. Pelaku utama dari aktivitas ini sahabat-sahabat yang sebelumnya telah dipersiapkan dengan matang. Dalam proses ini Rasulullah SAW membatasi kegiatannya pada tataran pemikiran yaitu menjelaskan kebatilan pemikiran yang diusung dan dipraktekkan masyarakat Arab dan menanamkan kebenaran ideologi Islam. Meski sesembahan merajalela disekitar Ka’bah beliau tetap mendiamkannya termasuk dalam masalah-masalah sosial seperti kemiskinan. Di sinilah proses yang paling berat dan menentukan sebab Rasulullah SAW dan para sahabat tidak hanya berhadapan dengan pemikiran yang rusak namun juga resistensi dari penganut pemikiran tersebut termasuk pemimpin politik mereka. Pertarungan pemikiran dan serangan politik terhadap pembesar-pembesar tersebut gencar dilakukan meski harus menerima perlakuan yang kejam dari mereka. Fase ini juga bisa disebut sebagai tafâ’ul ma’a al-ummah (berinteraksi dengan umat).

Kelima, mencari dukungan kekuasaan (thalab al-nushrah) dari para pemimpin masyarakat. Rasulullah SAW tidak sekadar membatasi diri untuk mensosialisasikan idenya kepada masyarakat. Namun pada saat yang sama juga secara aktif melakukan berbagai pendekatan kepada para penguasa Arab di masa itu Rasulullah SAW senantiasa mengajak pembesar Qurays memeluk Islam. Di sisi lain Rasul juga secara aktif mendakwahi qabilah-qabilah lainnya khususnya ketika musim haji tiba. Catatan Ibnu Sa’ad menunjukkan setidaknya Rasulullah menyambangi 15 kabilah Arab meski tak satupun dari mereka yang bersedia beriman dan mendukung beliau. Mereka antara lain: Bani Amir bin Sha’shaah, Bani Nadhir, Bani Hanifah, dan Bani Baqa. Meski demikian beliau terus bergerak hingga Allah mempertemukan beliau dengan suku Auz dan Khazaj. Menurut Ibnu Khalil (2003: 21) metode thalab al-nushrah yang dilakukan Rasulullah SAW secara konsisten meski menghadapi berbagai kesulitan menunjukkan wajibnya perbuatan tersebut .

Keenam, menerapkan ideologi Islam dalam pemerintahan. Setelah mendapatkan dukungan dari pemuka Auz dan Khazraj Rasulullah SAW kemudian mengutus Mus’ab untuk mengawal proses penyiapan masyarakat Madinah. Setalah masyarakat Madinah dianggap siap maka beliau dan kaum Muslim Makkah hijrah ke Madinah yang sekaligus menjadi awal tegaknya negara Islam. Islam kemudian diterapkan secara menyeluruh dan tidak lagi sebatas wacana. Dakwah dan jihad ke seluruh jazirah Arab pun digencarkan secara agresif termasuk ke Mekkah.

Tanpa Kekerasan
Masyarakat laksana air yang ada di dalam gelas.  Ketika gelas berisi air kotor, maka agar kita dapat menikmati air bersih mestilah diubah airnya. Bukan dengan memecahkan gelasnya, melainkan dengan mengganti airnya. Buang air yang kotor, lalu diganti dengan air yang bersih.  Begitu juga ketika melakukan perubahan masyarakat. Merubah masyarakat bukanlah menghancurkan masyarakat, melainkan mengganti sistem kehidupan yang ada di tengah masyarakat. Merubah masyarakat berarti merubah isinya, yakni merubah kepribadian anggota masyarakat, pemikiran masyarakat (baik akidah maupun syariat), perasaan masyarakat, dan sistem (nizham) yang mengatur berbagai interaksi sosial, politik, ekonomi, dan budaya masyarakat. Pada saat perubahan masyarakat dimaknai sebagai perubahan seperti itu, maka yang harus dirubah adalah pemikiran, perasaan, dan sistem masyarakat
Metode perjuangan Nabi dalam merubah masyarakat saat itu menjadi masyarakat Islam di Madinah amatlah jelas. Beliau melakukannya dengan pertarungan pemikiran dan perjuangan politik, dan mensterilkannya dari kekerasan fisik dan senjata. Bukan karena tidak bisa, tidak mampu, ataupun tidak mau, melainkan karena Allah SWT melarangnya. Kalau Nabi SAW mau, bisa saja dilakukan. Namun, beliau tidak melakukannya.

Tatkala pada Bai’at ‘Aqabah II sebagian sahabat menyampaikan keinginannya untuk menggunakan kekuatan fisik, beliau mengatakan: ”Kita belum diperintahkan demikian” (Lihat Sirah Ibnu Hisyam). Pernyataan ini makin menegaskan sikap beliau bahwa merubah masyarakat tidak islami menjadi masyarakat islami harus dilakukan tanpa menggunakan kekerasan fisik.

Berdasarkan hal di atas jelaslah bahwa metode perubahan masyarakat dari jahiliyah menjadi Islam dilakukan melalui pergulatan pemikiran dan perjuangan politik, tanpa kekuatan senjata.  Ancaman-ancaman fisik yang diterima beliau dan para sahabatnya tidak dihadapi dengan kekuatan senjata. Metode perlindungan terhadap ancaman tersebut adalah thalab an-nushrah.

Thalab an-Nushrah dilakukan oleh Nabi SAW dalam rangka dua hal, yakni: Pertama, untuk melindungi dan menangkal siksaan supaya beliau dan para sahabat bisa menyampaikan risalah dan menyeru manusia ke jalan Allah dalam suasana tenang. Kedua, agar mereka menyerahkan kekuatan dan kedudukan yang mereka miliki untuk mewujudkan tegaknya daulah islamiyah

Ibnu Qayyim al-Jauziyah di dalam buku Zaadul Ma’al menyatakan bahwa sesungguhnya Nabi tinggal selama sepuluh tahun mendatangi orang-orang di tempat peristirahatan mereka pada berbagai Musim. Beliau juga menemui mereka di pasar Ukadz.  Beliau menyatakan: ”Siapa yang melindungi aku dan menolongku hingga aku menyampaikan risalah Rabb-ku maka baginya sorga.” Untuk tujuan kedua, beliau mendatangi Bakar bin Wail saat ia menunaikan haji, ‘Amir bin Sha’sha’ah, Bani Syaiban, juga pada para pemimpin Madinah.

Pada saat ini kondisi umat Islam sama dengan kondisi saat Nabi SAW di Makkah. Sekalipun individunya mayoritas Muslim, tetapi masyarakatnya bukan masyarakat Islam. Negeri-negeri Muslim saat ini merupakan dar al-kufr sekalipun penduduknya Muslim.  Sebab, aturan dan keamanannya bukanlah berasal dari Islam. Perubahan masyarakat dewasa ini haruslah meneladani contoh Rasulullah SAW, yaitu melalui pergolakan pemikiran dan perjuangan politik, tanpa kekerasan senjata. Penyimpangan dari metode ini berarti menyimpang dari metode Rasulullah SAW dalam menegakkan daulah yang karenanya hanya akan bermuara pada kegagalan.

About frmui

FRM UI merupakan unit pelaksana kegiatan DKM Masjid UI yang dilaksanakan oleh mahasiswa UI. FRM UI memiliki tagline perjuangan, yaitu "Bersama Membangun Kehidupan Islam". Semoga Allah merahmati para pejuang yang menolong agama-Nya dan bersusah payah berjuang demi penegakan kalimatul haq di bumi ini.

Posted on April 20, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: